Sekilas

Paluang usaha agribisnis sangat menjanjikan. Indonesia sebagai negara agrasis (pertanian) memiliki aneka ragam hasil produk pertanian yang berlimpah. Pemanfaatan yang baik produk hasil pertanian sangat memungkinkan menjadi salah satu upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu faktor utama yang diperlukan dalam rangka meningkatkan sektor usaha agribisnis adalah peran serta / dukungan dari pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat mendukung secara moral dan infrastruktur kepada para petani guna meningkatkan hasil produksi sesuai dengan yang diharapkan. Bagi para petani diharapkan juga untuk mempersiapkan dengan perencanaan yang matang sebelum memulai usaha dibidang agribisnis ini.


Senin, 10 Januari 2011

Vanili, komoditas ekspor yang terancam punah

DENPASAR (Bisnis): Kekhawatiran terhadap anjloknya ekspor vanili tampaknya
kian mendekati kenyataan setelah produksi makin menipis seiring raibnya
ratusan hektar areal budidaya komoditas itu. Padahal lima tahun silam
vanili bagaikan emas hijau yang banyak dibudidayakan hampir diseluruh
pelosok nusantara meliputi 22 provinsi. Bahkan tiga provinsi dari enam
daerah TK I yang dulunya memiliki luas areal tanaman vanili di atas 1.000
hektar kini mulai beralih fungsi ke jenis tanaman lain maupun untuk
kepentingan lain.

Salah satunya adalah provinsi Bali, Jika pada 1994 masih memiliki 3.150 ha
areal perkebunan vanili milik rakyat maka pada 1998 tinggal 1.217 ha.
Itupun dengan produktivitas yang rendah. Data Dinas Perkebunan setempat
menunjukkan hasil panen vanili pada MT 1999/2000 hanya sekitar satu ton
turun atau 90% dibanding hasil MT 1998/1999, 10 ton. Sementara menurut data
Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan hasil, Ditjen Perkebunan
penurunan produksi dan areal tanaman yang tajam dan cenderung kosong
terjadi di Jawa Timur.

Sedangkan para petani di Manado, Sulawesi Utara, belum lama ini mengganti
tanaman vanili karena kecewa atas fluktuasi harga komoditas itu. Ketua Umum
Asosiasi Eksportir Panili Indonesia [AEPI] I Made Muka mengatakan sejak
serangan penyakit busuk batang pada 1994 petani memang mulai enggan menanam
vanili. Padahal 99% kebun vanili di Bali, Jatim, Lampung, NTT dan Sulut
seluas 14.141 ha milik rakyat yang melibatkan sedikitnya 60.000 KK. Kondisi
itu diperparah fluktuasi harga di tingkat petani akibat kebijakan pesaing
utama, Madagaskar pada 1997.

Saat itu harga vanili hijau basah di tingkat petani kurang dari Rp 5.000
per kg karena harga vanili kering kualitas satu di pasar ekspor hanya US$10
per kg. "Sehingga petani kecewa dan enggan melanjutkan budidaya vanili,"
kata Made. Menurut Wakil Ketua DPP AEPI, Paulus Fadjar anjloknya harga
vanili di pasar internasional karena Madagaskar melakukan obral dengan
paket deregulasi "Sebagai produsen utama negara itu biasanya membatasi
ekspor antara 218 ton-700 ton per tahun, namun sejak 1997 membebaskan para
eksportir menjual stok dalam jumlah besar."

Tak heran jika laporan statistik Zink & Triest Company yang diterima AEPI
Bali menunjukkan ekspor vanili Madagaskar ke AS melonjak tajam selama tiga
tahun terakhir, terutama pada 1997. Selama lima tahun terakhir Indonesia
hanya mampu memasok 600 ton-752 ton. Seperti diketahui total kebutuhan
dunia berkisar antara 2000 ton-2500 ton per tahun yang diserap AS (50%),
Prancis (25%), Jerman (15%) dan sejumlah negara lainnya. Namun obral vanili
Madagaskar tak berlangsung lama mengingat harga mulai membaik pada akhir
1998 hingga pertengahan 1999 sehingga ikut mendongkrak harga di tingkat
petani.

Kantor kedutaan Indonesia di Madagaskar melaporkan harga vanili pada 1999
diperkirakan mencapai US$35 per kg untuk jenis ke III hitam tidak berbelah.
Vanili warna merah berukuran kurang dari 15 cm jenis ke-4 berkisar antara
US$14 hingga US$31 per kg, sedangkan harga vanili hijau basah di Indonesia
rata-rata mencapai Rp 25.000 per kg sehingga sangat prospektif dibanding
kakao dan kopi.

Gagal Panen

Sayangnya potensi devisa itu melayang begitu saja karena tahun ini vanili
Indonesia gagal panen. Menurut Ketua Bina Tani dan Produksi AEPI, Ida Bagus
Raka Wiryanata, panen 1999/2000 gagal total karena banyak bunga vanili yang
telah dikawinkan rontok akibat musim hujan lebih panjang dari kemarau.
"Jadi selain penyakit busuk batang dan fluktuasi harga, anjloknya produksi
vanili dalam negeri juga akibat pengaruh El Nino dan La Nina," katanya.
Akibatnya pada 1999 ekspor vanili mencapai titik terendah yakni hanya 5%
atau 50 ton dari total permintaan ekspor sebanyak 1.000 ton. Padahal pada
MT 1998/99 produksinya masih tercatat 515 ton, meski sempat diproyeksikan
mencapai 4000 ton.

Terlepas dari faktor alam, kata Raka, indikasi penurunan produksi vanili
sudah terlihat karena rata-rata umur ekonomis tanaman itu hanya 10 tahun.
Hingga 1999 banyak pohon sudah tua dan perlu peremajaan. Namun upaya itu
sulit ditempuh petani yang trauma mengingat penyakit busuk batang telah
menyebar hampir ke seluruh areal budidaya dan belum teratasi. Padahal
potensi lahan masih luas tinggal menunggu bangkitnya kembali minat budidaya
vanili. Jika tidak, boleh jadi Indonesia tak lagi dikenal sebagai eksportir
vanili kedua terbesar di dunia. Tampaknya pemerintah perlu merintis solusi
bersama AEPI dan para petani menyangkut rekonstruksi usaha budidaya vanili.
Termasuk pengadaan modal dan bibit bagi petani produsen.

Langkah itu terasa kian penting setelah Kantor Kedutaan RI di Madagaskar
melaporkan kapasitas produksi vanili negara itu mulai terbatas, bahkan
diproyeksikan kurang dari 1.000 ton per tahun. "Sementara sejumlah negara
produsen lain seperti Tonga dan Fiji, menurut para buyers keadaannya tak
jauh beda." Indonesia masih mempunyai potensi luas untuk pengembangan
vanili misalnya dengan sistem tumpang sari dengan komoditas perkebunan
lainnya semisal sawit, kelapa, kopi, maupun karet.

Masalahnya AEPI tak lagi mampu berperan besar seperti sebelumnya dengan
ikut mendukung pembiayaan dan pengadaan bibit mengingat banyak eksportir
vanili yang kini terpuruk akibat kesulitan bahan baku. AEPI hanya mampu
menjamin harga yang relatif lebih tinggi dibanding komoditas perkebunan
lainnya seperti kopi dan kakao karena potensi pasar di luar negeri sudah
mulai jelas.

Dwi Wahyuni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar